Minggu, 29 Maret 2009

IKHLAS

I. Pendahuluan

Ikhlas berkaitan dengan niat. Ikhlas identik dengan kegiatan membersihkan dan memisahkan dari sesuatu yang kotor menjadi bersih. Seorang muslim dalam beramal dimulai dari niatnya. Niat itu pulalah yang akan menghantarkan ia pada pahala yang melimpah atau tidak sama sekali.

Dalam sebuah hadits disebutkan, Rasulullah SAW bersabda, “sesungguhnya amal itu tergantung dengan niatnya dan sesungguhnya bagi seseorang itu apa yang diniatkannya. Barang siapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa berhijrah karena harta yang ingin diraihnya atau karena perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu untuk sesuatu yang menjadi tujuan hijrahnya.” (HR. Bukhari-Muslim)

II. Hakikat Ikhlas

Ikhlas berada dalam hati demikian pula dengan lawannya yaitu syirik, keduanya senantiasa berebut tempat di hati manusia. Oleh sebab itu tempat ikhlas ada di dalam hati dan hal itu berkaitan dengan tujuan dan niat seseorang.
Disebutkan bahwa hakikat niat itu mengacu kepada respon berbagai hal yang membangkitkannya. Bila faktor pembangkitnya hanya satu maka perbuatan itu disebut ikhlas dalam kaitannya dengan apa yang diniatkan. Istilah ikhlas itu khusus berkenaan dengan tujuan semata-mata mencari taqarrub kepada Allah dan pelakunya disebut mukhlis.

III. Cara Untuk Mengenali Ikhlas

Motivasi seseorang untuk beramal banyak sekali. Oleh karena itu kita perlu mengenali tujuan dari amal kita agar motivasinya tidak tercampur dengan yang lain, seperti riya’ atau kepentingan-kepentingan nafsu lainnya.

Salah satu contoh motivasi yang telah tercampur dengan motivasi yang lain misalnya orang yang berpuasa untuk memanfaatkan perlindungan yang dapat dicapai melalui puasa tersebut disamping niat taqarrub. Contohnya antara lain: orang yang pergi haji untuk memperoleh kesegaran suasana untuk bepergian.

Oleh karena itu, para penempuh jalan akhirat harus mencermati amal perbuatan mereka dan memperbaharui niat mereka. Tidak setiap tujuan dalam suatu amal dapat membatalkan amal. Karena itu, siapa yang berpuasa dengan tujuan bertaqarrub kepada Allah dan mencapai kesehatan maka tidak merusak keikhlasannya. Bahkan jika kesehatannya itu diniatkan untuk memperkuat diri dalam mengamalkan kebaikan maka pahalanya semakin bertambah. Jika ia memaksudkan untuk hak dirinya maka pahala keikhlasan kepada Allah lebih banyak.

Singkatnya, setiap kepentingan duniawi yang disenangi nafsu dan dicenderungi hati sedikit ataupun banyak, apabila merambah ke dalam amal maka dapat mengeruhkan kejernihannya. Manusia senantiasa terikat dalam kepentingan-kepentingan dirinya dan tenggelam dalam berbagai syahwatnya sehingga jarang sekali amal perbuatan atau ibadahnya dapat terlepas dari kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan sejenis itu.

Akan tetapi hal yang menjadi perhatian adalah apabila tujuan asalnya berupa taqarrub lalu terkontaminasi oleh hal-hal di atas, kemudian kotoran-kotoran ini berada pada tingkat mu’awanah (mendukung).

Jadi, pengetahuan tentang hakikat ikhlas dan pengamalannya merupakan lautan yang dalam, semua orang tenggelam di dalamnya kecuali sedikit, yaitu orang-orang yang dikecualikan dalam firman-Nya: “Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka” (QS. Al Hijr : 40). Maka hendaklah seorang hamba sangat memperhatikan dan mengawasi hal-hal yang sangat mendetil ini. Jika tidak, maka akan tergolong kepada pengikut syaithan tanpa menyadarinya.

IV. Manfaat Ikhlas

1. Hidup akan tenang karena hati selalu berjaga-jaga untuk mengevaluasi dan meluruskan niat dalam beramal
2. Selalu dimudahkan dalam segala urusannya
3. Memiliki orientasi hidup yang mampu menjangkau jangka panjang yaitu akhirat
4. Pemberat/penambah pahala dalam beramal
5. Mendapat posisi sebaik-baiknya Hamba di sisi Allah dan juga manusia.

V. Penutup

Apabila keikhlasan telah bersemayam di dalam diri, maka setiap amal akan diberkahi oleh Allah SWT. Setiap orang akan berlomba-lomba untuk memberikan amalan terbaiknya karena ia menyadari buah dari ilmu dan keikhlasan adalah amal shaleh.

Referensi :

1. Tadzkiyatun Nafs, Said Hawwa
2. Membina Angkatan Mujahid, Said Hawwa

Minggu, 08 Februari 2009

CIRI-CIRI ORANG YANG MEMBERIKAN SESUATU TANPA BERHARAP BALASAN

Keikhlasan adalah bukti keimanan. Semakin tinggi keikhlasan seseorang dalam beramal semakin tinggi derajat imannya di sisi Allah. Kita selama ini mungkin berpandangan, ikhlas itu sulit diukur, hanya hati yang bersangkutan dan Allah SWT saja yang tahu persis keikhlasan seseorang. Itu benar bila kita tidak tahu bagaimana cara mengukurnya. Tapi keikhlasan bukan tidak bisa diukur. Berbuat ikhlas dalam beramal atau memberikan sesuatu betul-betul tanpa berharap balasan (kecuali ridha Allah saja) ada ukurannya atau ada ciri-cirinya. Di bawah ini adalah ajaran Kitab Paradigma Hikmah Lima tentang rumus ciri-ciri orang yang bila memberikan sesuatu berarti ia betul-betul ikhlas, tanpa berarap balasan.

i
1. Bukan Miliknya
Dalam Islam diajarkan bahwa segala sesuatu yang kita miliki pada hakikatnya bukan milik kita, melainkan milik Allah semata. Apapun yang kita “miliki” hanyalah titipan Allah kepada kita. Kita harus meyakini bahwa uang, harta, kekayaan, nyawa, hidup, keluarga dan sebagainya, semuanya milik Allah, semuanya hanya titipan. Kalau semuanya hanya titipan, bukan milik kita, tetapi milik Allah, lalu mengapa harus merasa milik kita sendiri? Mengapa harus tidak ikhlas dengan apa yang terjadi pada kita? Mengapa harus kikir kepada orang lain? Mengapa harus menahan-nahan dan menguasai? Orang menjadi kikir karena lupa bahwa apa yang ada padanya seolah-olah miliknya. Orang akan memiliki sifat ikhlas, bila ia menghidupkan penghayatan bahwa semua yang “dimilikinya” pada hakekatnya adalah milik Allah, bukan milik dirinya, suatu saat, sewaktu-waktu, ketika titipan itu diambil kembali oleh pemiliknya melalui kehilangan, pemberian, atau kematian pemiliknya dst, ia akan tidak merasa kehilangan apa-apa, termasuk hidupnya, nyawanya, nasibnya, apalagi harta yang rendah nilainya.

2. Bukan atas Namanya
Ciri kedua orang yang pemberiannya ikhlas adalah “bukan atas namanya.” Ketika seseorang beramal, menyumbang, infaq dan shadaqah, ia menyumbang bukan atas namanya tetapi atas nama pemiliknya, yaitu Allah. Jelas sekali logikanya, kalau apa yang ada pada kita adalah titipan Allah, milik Allah, apakah ketika kita memberikannya pada orang lain, menyumbangkannya pada yang membutuhkan, menshadaqahkannya kepada yang membutuhkan, kita mengaku-ngaku sebagai pemiliknya? Bukankah itu sikap tidak tahu diri, telah mengaku-ngaku sesuatu sebagai miliknya padahal sesungguhnya milik Allah. Orang yang ikhlas sadar betul ketika menyumbangkan sesuatu tidak mengatasnamakan dirinya, tetapi mengatasnamakan pemiliknya. Jadi, orang yang ikhlas dalam beramal tidak akan menonjol-nonjol diri, tidak akan menyebut-nyebut namanya, ia akan merasa malu kalau disebut namanya, ia lebih menyembunyikan atau tidak membesar-besarkan namanya karena kesadarannya bahwa apa yang diberikannya itu bukan miliknya.

3. Bukan Penerima Balasannya
Ciri ketiga adalah “bukan penerima balasannya.” Sebagai konsekuensi dari sikap yang kedua, Anda tidak merasa sebagai penerima balasannya ketika memberikan sesuatu kepada orang lain sebagai sumbangan, sebagai shadaqah dan sebagainya. Ketika kita memberikan sesuatu kepada orang lain dan kita, dalam hati, berharap balasannya, walaupun dari Allah, berarti kita belum ikhlas. Wong yang kita berikan bukan milik kita, mengapa kita harus mengharapkan balasan? Orang yang ikhlas, cirinya, ketika ia memberikan sesuatu, tidak berharap balasan dari siapapun, karena ia merasa bukan pemiliknya. Kalau pun balasan itu ada, akan diberikannya kepada pemiliknya karena pemiliknya itulah yang berhak mendapat balasan, bukan orang yang dititipinya.

4. Bukan yang Mengaturnya
Keempat, “bukan yang mengaturnya.” Ciri selanjutnya sebuah amal yang ikhlas adalah seseorang merasa dan meyakini bahwa hidupnya, nasibnya, harta yang dimilikinya, kekayaan yang ada padanya, apa yang diberikannya, bukan dia yang mengaturnya, tetapi Allah sebagai pemiliknya. Jelas dan logis sekali. Seseorang yang dititipi, dimanapun, hanya berhak menunggu dan memakainya (bila diizinkan), adapun penggunaan dan pengaturannya hanya pemiliknya yang menentukan. Misalnya, mau disimpan, mau dijual, mau diberikan, mau dibagikan, atau mau dibuang, semuanya terserah pemiliknya. Orang yang ikhlas tahu betul dan membuktikan bahwa pengaturan hartanya, kekayaannya, hidupnya, ditentukan oleh pemiliknya. Allah mengaturnya melalui apa? melalui ajaran agama, yaitu melalui ajaran zakat, infaq dan shadaqah. Bila Sang Pemilik memerintahkan untuk mengeluarkan zakat, infak atau shdaqah dari harta yang ada pada kita, ya keluarkan tanpa ragu dan bimbang. Kalau semua itu kita merasa bukan milik kita, apa susahnya melakukan itu? Jadi, sebetulnya ringan saja “memiliki” harta itu, kalau kita tahu dan menghayati posisi dan kedudukannya dengan benar. Sekali lagi, banyak orang yang rudet, ruwet, rakus dan stress dengan kepemilikan hartanya, atau apa saja yang ada pada dirinya, karena ia merasa miliknya sendiri. Ia lupa bahwa itu semua adalah titipan.

5. Hanya Memeliharanya
Terakhir, orang ikhlas dicirikan oleh sikapnya yaitu “hanya memeliharanya” terhadap apa saja yang dititipkan Allah kepadanya termasuk jiwanya, hidupnya, nasibnya dan hartanya. Ia tidak merasa memilikinya dan tidak menguasainya. Seorang Muslim yang sudah mencapai ikhlas merasa betul status dirinya terhadap apa yang ada padanya hanyalah memeliharanya. Ada pemilik sesungguhnya yaitu Allah SWT. Karenanya, bila ada orang merasa memiliki hartanya, menentukan sendiri penggunaannya, membuat sendiri aturan seenaknya, misalnya ditumpuk-tumpuk, dihitung-hitung, dipuja-puja, dikoleksi, dibelanjakan untuk kepuasan nafsunya, sesungguhnya ia adalah orang khianat, tidak bisa dipercaya karena melupakan pemiliknya. Karenanya, ketika diambil lagi oleh pemiliknya melalui kehilangan, kecurian, kebakaran dst, ia marah, mencak-mencak dan tidak menerima. Bukankah itu sebuah sikap yang tidak tahu diri?? Wallahu’alam![]