CIRI-CIRI ORANG YANG MEMBERIKAN SESUATU TANPA BERHARAP BALASAN
Keikhlasan adalah bukti keimanan. Semakin tinggi keikhlasan seseorang dalam beramal semakin tinggi derajat imannya di sisi Allah. Kita selama ini mungkin berpandangan, ikhlas itu sulit diukur, hanya hati yang bersangkutan dan Allah SWT saja yang tahu persis keikhlasan seseorang. Itu benar bila kita tidak tahu bagaimana cara mengukurnya. Tapi keikhlasan bukan tidak bisa diukur. Berbuat ikhlas dalam beramal atau memberikan sesuatu betul-betul tanpa berharap balasan (kecuali ridha Allah saja) ada ukurannya atau ada ciri-cirinya. Di bawah ini adalah ajaran Kitab Paradigma Hikmah Lima tentang rumus ciri-ciri orang yang bila memberikan sesuatu berarti ia betul-betul ikhlas, tanpa berarap balasan.
i
1. Bukan Miliknya
Dalam Islam diajarkan bahwa segala sesuatu yang kita miliki pada hakikatnya bukan milik kita, melainkan milik Allah semata. Apapun yang kita “miliki” hanyalah titipan Allah kepada kita. Kita harus meyakini bahwa uang, harta, kekayaan, nyawa, hidup, keluarga dan sebagainya, semuanya milik Allah, semuanya hanya titipan. Kalau semuanya hanya titipan, bukan milik kita, tetapi milik Allah, lalu mengapa harus merasa milik kita sendiri? Mengapa harus tidak ikhlas dengan apa yang terjadi pada kita? Mengapa harus kikir kepada orang lain? Mengapa harus menahan-nahan dan menguasai? Orang menjadi kikir karena lupa bahwa apa yang ada padanya seolah-olah miliknya. Orang akan memiliki sifat ikhlas, bila ia menghidupkan penghayatan bahwa semua yang “dimilikinya” pada hakekatnya adalah milik Allah, bukan milik dirinya, suatu saat, sewaktu-waktu, ketika titipan itu diambil kembali oleh pemiliknya melalui kehilangan, pemberian, atau kematian pemiliknya dst, ia akan tidak merasa kehilangan apa-apa, termasuk hidupnya, nyawanya, nasibnya, apalagi harta yang rendah nilainya.
2. Bukan atas Namanya
Ciri kedua orang yang pemberiannya ikhlas adalah “bukan atas namanya.” Ketika seseorang beramal, menyumbang, infaq dan shadaqah, ia menyumbang bukan atas namanya tetapi atas nama pemiliknya, yaitu Allah. Jelas sekali logikanya, kalau apa yang ada pada kita adalah titipan Allah, milik Allah, apakah ketika kita memberikannya pada orang lain, menyumbangkannya pada yang membutuhkan, menshadaqahkannya kepada yang membutuhkan, kita mengaku-ngaku sebagai pemiliknya? Bukankah itu sikap tidak tahu diri, telah mengaku-ngaku sesuatu sebagai miliknya padahal sesungguhnya milik Allah. Orang yang ikhlas sadar betul ketika menyumbangkan sesuatu tidak mengatasnamakan dirinya, tetapi mengatasnamakan pemiliknya. Jadi, orang yang ikhlas dalam beramal tidak akan menonjol-nonjol diri, tidak akan menyebut-nyebut namanya, ia akan merasa malu kalau disebut namanya, ia lebih menyembunyikan atau tidak membesar-besarkan namanya karena kesadarannya bahwa apa yang diberikannya itu bukan miliknya.
3. Bukan Penerima Balasannya
Ciri ketiga adalah “bukan penerima balasannya.” Sebagai konsekuensi dari sikap yang kedua, Anda tidak merasa sebagai penerima balasannya ketika memberikan sesuatu kepada orang lain sebagai sumbangan, sebagai shadaqah dan sebagainya. Ketika kita memberikan sesuatu kepada orang lain dan kita, dalam hati, berharap balasannya, walaupun dari Allah, berarti kita belum ikhlas. Wong yang kita berikan bukan milik kita, mengapa kita harus mengharapkan balasan? Orang yang ikhlas, cirinya, ketika ia memberikan sesuatu, tidak berharap balasan dari siapapun, karena ia merasa bukan pemiliknya. Kalau pun balasan itu ada, akan diberikannya kepada pemiliknya karena pemiliknya itulah yang berhak mendapat balasan, bukan orang yang dititipinya.
4. Bukan yang Mengaturnya
Keempat, “bukan yang mengaturnya.” Ciri selanjutnya sebuah amal yang ikhlas adalah seseorang merasa dan meyakini bahwa hidupnya, nasibnya, harta yang dimilikinya, kekayaan yang ada padanya, apa yang diberikannya, bukan dia yang mengaturnya, tetapi Allah sebagai pemiliknya. Jelas dan logis sekali. Seseorang yang dititipi, dimanapun, hanya berhak menunggu dan memakainya (bila diizinkan), adapun penggunaan dan pengaturannya hanya pemiliknya yang menentukan. Misalnya, mau disimpan, mau dijual, mau diberikan, mau dibagikan, atau mau dibuang, semuanya terserah pemiliknya. Orang yang ikhlas tahu betul dan membuktikan bahwa pengaturan hartanya, kekayaannya, hidupnya, ditentukan oleh pemiliknya. Allah mengaturnya melalui apa? melalui ajaran agama, yaitu melalui ajaran zakat, infaq dan shadaqah. Bila Sang Pemilik memerintahkan untuk mengeluarkan zakat, infak atau shdaqah dari harta yang ada pada kita, ya keluarkan tanpa ragu dan bimbang. Kalau semua itu kita merasa bukan milik kita, apa susahnya melakukan itu? Jadi, sebetulnya ringan saja “memiliki” harta itu, kalau kita tahu dan menghayati posisi dan kedudukannya dengan benar. Sekali lagi, banyak orang yang rudet, ruwet, rakus dan stress dengan kepemilikan hartanya, atau apa saja yang ada pada dirinya, karena ia merasa miliknya sendiri. Ia lupa bahwa itu semua adalah titipan.
5. Hanya Memeliharanya
Terakhir, orang ikhlas dicirikan oleh sikapnya yaitu “hanya memeliharanya” terhadap apa saja yang dititipkan Allah kepadanya termasuk jiwanya, hidupnya, nasibnya dan hartanya. Ia tidak merasa memilikinya dan tidak menguasainya. Seorang Muslim yang sudah mencapai ikhlas merasa betul status dirinya terhadap apa yang ada padanya hanyalah memeliharanya. Ada pemilik sesungguhnya yaitu Allah SWT. Karenanya, bila ada orang merasa memiliki hartanya, menentukan sendiri penggunaannya, membuat sendiri aturan seenaknya, misalnya ditumpuk-tumpuk, dihitung-hitung, dipuja-puja, dikoleksi, dibelanjakan untuk kepuasan nafsunya, sesungguhnya ia adalah orang khianat, tidak bisa dipercaya karena melupakan pemiliknya. Karenanya, ketika diambil lagi oleh pemiliknya melalui kehilangan, kecurian, kebakaran dst, ia marah, mencak-mencak dan tidak menerima. Bukankah itu sebuah sikap yang tidak tahu diri?? Wallahu’alam![]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar